Kamis, 02 Agustus 2012

Katak Dan Siput


 
Ada seekor siput selalu memandang sinis terhadap katak. Suatu hari, katak yang kehilangan kesabaran akhirnya berkata kepada siput: “Tuan siput, apakah saya telah melakukan kesalahan, sehingga Anda begitu membenci saya?”
Siput menjawab: “Kalian kaum katak mempunyai empat kaki dan bisa melompat ke sana ke mari, Tapi saya mesti membawa cangkang yang berat ini, merangkak di tanah, jadi saya merasa sangat sedih.”
Katak menjawab: “Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja kamu cuma melihat kegembiraan saya, tetapi kamu tidak melihat penderitaan kami (katak).”
Dan seketika, ada seekor elang besar yang terbang ke arah mereka, siput dengan cepat memasukan badannya ke dalam cangkang, sedangkan katak dimangsa oleh elang.
Nikmatilah kehidupanmu, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan. Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki. Hal tersebut akan membawakan lebih banyak rasa syukur dan kebahagiaan bagi kita sendiri.

Pelajaran Dari Penambang


 
Ada beberapa penggali tambang. Setiap hari mereka bekerja dalam tambang. Karena tambang itu kaya mineral alam, maka sudah beberapa tahun mereka tak pernah pindah tempat kerja. Jadi bisa dibayangkan bahwa semakin digali tambang tersebut semakin dalam. Hari itu mereka berada di dasar terdalam dari tambang itu.
Secara tiba-tiba semua saluran arus listrik dalam tambang itu putus. Lampu-lampu semuanya padam. Gelap gulita meliputi dasar tambang itu, dan dalam sekejap terjadilah hirup pikuk di sana. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri sendiri. Namun mereka sungguh kehilangan arah. Setiap gerakan mereka pasti berakhir dengan benturan dan tabrakan, entah menabrak sesama pekerja atau menabrak dinding tambang. Situasi bertambah buruk disebabkan oleh udara yang semakin panas karena ketiadaan AC.
Setelah capek bergulat dengan kegelapan, mereka semua duduk lesu tanpa harapan. Satu dari para pekerja itu angkat bicara: ‘Sebaiknya kita duduk tenang dari pada secara hiruk-pikik mencari jalan ke luar. Duduklah secara tenang dan berusahalah untuk merasakan hembusan angin. Karena angin hanya bisa berhembus masuk melalui pintu tambang ini.’
Mereka lalu duduk dalam hening. Saat pertama mereka tak dapat merasakan hembusan angin. Namun perlahan-lahan mereka menjadi semakin peka akan hembusan angin sepoi yang masuk melalui pintu tambang. Dengan mengikuti arah datangnya angin itu, mereka akhirnya dengan selamat keluar dari dasar tambang yang dicekam gelap gulita itu.
Bila bathin anda sedang gundah dan kacau, anda tak akan pernah melihat jalan keluar yang tepat. Anda butuh untuk pertama-tama menenangkan diri. Hanya dalam keheningan anda bisa melihat pokok masyalah secara tepat, serta secara tepat pula membuat keputusan.

13 JURUS MENGHILANGKAN KEBIASAAN BURUK

Menghilangkan kebiasaan buruk memang tidak gampang, Sob. Namun juga tidak sesulit yang kita bayangkan. Masalahnya adalah kita terkadang tidak benar-benar percaya apakah kebiasaan buruk itu bisa dihilangkan dan dihentikan selama-lamanya dalam diri kita.

Berikut merupakan 13 jurus yang dapat dipraktekkan untuk memusnahkan kebiasaan buruk yang sering kita perbuat:

1. Percaya Kita Bukanlah Kebiasaan Buruk Kita
Untuk bisa menghilangkan kebiasaan buruk, terlebih dahulu kita harus percaya bahwa kita bukanlah orang yang punya kebiasaan buruk seperti itu. Logikanya, ketika kita yakin bahwa diri kita adalah kebiasaan buruk kita, maka kita akan berpikir “memang itulah saya! kalo saya mencoba untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu maka saya tidak menjadi diri sendiri! saya tidak bisa!”

Tapi kalau kita yakin bahwa kita bukanlah kebiasaan buruk kita, maka kita akan berpikir, “Saya bukan orang yang seperti itu! saya akan melakukan segala cara untuk bisa menghilangkannya!”

2. Percaya Bahwa Itu Bukan “Kebiasaan”
Sebenarnya mengatakan bahwa itu adalah “kebiasaan buruk” akan memperkuat melekatnya hal itu pada diri kita. Kata “kebiasaan” sudah tertanam di benak semua orang sebagai sesuatu yang teramat sulit untuk diubah/dihilangkan. Maka kita perlu mengganti kosa kata kita. Jangan mengatakan “kebiasaan”. Lebih baik katakan “sesuatu yang tidak baik” atau “kekhilafan”. Tujuannya adalah untuk mengubah persepsi otak kita bahwa kita pasti bisa dan harus segera bisa menghilangkannya.

3. Asosiasikan Penderitaan Dan Kejelekan!
Anthony Robbins, motivator no. 1 sejagad, mengatakan hanya ada 2 hal yang mempengaruhi kehidupan manusia secara keseluruhan, yakni kesenangan dan kepedihan. Alasan mengapa seseorang melakukan apa yang mereka lakukan dan menghindari apa yang tidak mereka lakukan adalah 2 hal ini. Karena mereka ingin mendapatkan kesenangan dan ingin menghindari kepedihan.

Nah, kebiasaan buruk terjadi karena kita menghubungkan kebiasaan buruk itu dengan kesenangan yang akan kita dapatkan. Misalnya merokok. Semua perokok, pasti lebih cenderung memikirkan kesenangan dari merokok. Bukan penderitaannya. Nah, untuk menghilangkan kebiasaan buruk merokok atau apapun yang lainnya, hubungkanlah kebiasaan buruk itu dengan kepedihan dan penderitaan.

4. Fokus Pada Diri KitaKalau kita percaya kita bukanlah kebiasaan buruk kita, berarti kita adalah kebiasaan baik kita. Fokuslah pada kebiasaan baik diri kita. Katakan “saya adalah orang yang senang tersenyum!” atau “Saya punya kebiasaan menyisihkan sebagian uang saya untuk disumbangkan!” Katakan yang sebenarnya mengenai kebaikan diri kita.

5. Alihkan Fokus Kita
Ketika keinginan untuk melakukan kebiasaan buruk itu datang, alihkan fokus pikiran kita pada sesuatu hal yang lain yang lebih menarik. Ingat! yang lebih menarik. Bukan sembarang mengalihkan fokus pikiran, tetapi mengalihkannya kepada sesuatu yang benar-benar lebih menarik.
6. Temukan Solusi dan Ceritakan Pada Orang Lain!
Alih-alih fokus pada diri sendiri, fokuslah pada membantu orang lain menghilangkan kebiasaan buruk mereka. Jika seseorang bertanya, bagaimana menghilangkan kebiasaan buruk merokok, ceritakan apa yang biasa dilakukan untuk mengatasinya pada diri kita. Ini akan membantu otak kita untuk fokus pada solusinya bukan pada masalahnya. Jadi di samping membantu orang lain, sebenarnya kita sedang membantu diri sendiri.

7. Tulis
Jangan hanya berkomitmen. Tapi tulislah komitmen untuk menghilangkan kebiasaan buruk itu di kertas. Tulis Jenis Kebiasaan buruk yang ingin dihilangkan. Dan cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.  Menceritakan komitmen kita kepada orang lain, akan lebih menguntungkan.
 
8. Jangan Berubah Untuk Orang Lain

Seringkali demi cinta dan sayang terhadap seseorang kita rela berubah. Misal, demi si fulanah, gue rela nggak lagi pake narkoba. Tetapi sebenarnya, tanpa motivasi dalam diri yang kuat, kecenderungan untuk berhenti di tengah jalan dapat terjadi.
Lakukan sebaliknya, kita dapat melibatkan orang tercinta sebagai faktor pendorong motivasi sementara motivasi utama tetap berasal dari dalam diri demi kebaikan diri sendiri. Misalnya melakukan sesuatu demi kesehatan atau meningkatkan kepercayaan diri. “Gue tau… make narkoba bisa merusak otak gue. Gue akan berhenti!”


9. Jangan Bercermin di Kesalahan Orang Lain

Keberhasilan yang diraih seseorang dalam waktu singkat belum tentu dapat terjadi sama persis terhadap diri kita. Setiap orang memiliki pengalaman uniknya sendiri. Proses yang lamban, namun menunjukkan kemajuan, lebih baik dari proses instan yang berhasil hanya untuk sementara.

10. Beri Reward

Beri hadiah kecil untuk diri sendiri saat berhasil meraih kemajuan. Hadiah menjadikan proses berat untuk menghilangkan kebiasaan buruk menjadi lebih menyenangkan. Ada bonus lain yang memacu untuk keras berusaha. Misalnya saat kita berhasil mengurangi konsumsi junkfood selama sebulan, kita berhak mendapatkan sepatu atau tas baru. Akan tetapi jangan sampai hadiah ini menjadi kebiasaan buruk yang baru, hingga kita tergantung padanya.


11. Hindari Aktivitas yang memancing baliknya kebiasaan buruk


Jika kita ingin mengerem perilaku boros, mau tidak mau kita harus mengurangi hobi jalan-jalan ke mal. Pun demikian halnya jika kita berniat berhenti mengemil. Akan sulit dilakukan jika kita tetap melewatkan waktu dengan menonton televisi berjam-jam, pergi ke bioskop, atau berkumpul bersama rekan dan berbincang hingga lupa waktu. Hindari aktivitas yang mengundang kembalinya kebiasaan yang ingin kita hilangkan.


12. Cari Kebiasaan Pengganti

Menghentikan kebiasaan buruk, artinya menghapus salah satu bagian dari pola hidup kita. Jika kita memotong begitu saja kebiasaan tersebut, ada kekosongan yang terjadi dalam keseharian kita. Akibatnya timbul ketidaknyamanan yang jika tidak diatasi akan mendorong kita untuk kembali ke kebiasaan lama. Maka, yang harus kita lakukan adalah mencari kebiasaan pengganti yang lebih baik.

13. Perbaiki Shalat kita!

Rasulullah s.a.w bersabda, "Barang siapa shalatnya tidak menghalanginya dari perbuatan kejahatan dan kemungkaran,maka tidak ada shalat baginya." (HR.Abu Daud-Durrul Mantsur) 
Shalat adalah amalan yang sangat bernilai. Apabila shalat kita kerjakan dengan tertib, akan menyebabkan tercegahnya kita dari segala hal yang tidak kita inginkan.
Banyak sekali Hadits Shahih yang menyebutkan mengenai hal ini. Diantaranya ibnu Abbas r.a berkata."Shalat menghentikan kita dari berbuat dosa dan shalat menyelamatkan kita dari dosa-dosa."

Ibnu Umar r.a pernah meriwayatkan hal yang sama. Abdullah bin Mas'ud r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda,"Barang siapa tidak mengiringi shalatnya dengan ketaatan,maka itu bukanlah shalat. Ketaatan yang mengiringi shalat adalah rasa malu dan meninggalkan perbuatan buruk."(Al-hadits)

Abu Hurairah r.a menceritakan tentang seseorang yang bercerita kepada Rasulullah s.a.w bahwa ada orang yang shalat tahajjud di malam hari dan pagi harinya ia mencuri. Rasulullah s.a.w bersabda,"Dalam waktu dekat shalat itu akan menghentikanya dari perbuatan tersebut."(Durrul-Mantsur)

Dari hadits ini kita mengetahui bahwa jika seseorang yang selalu menyibukan diri dengan perbuatan maksiat, maka hendaknya ia betul-betul menyibukkan diri dengan shalat yang benar. Oleh karena dengan shalatnya itu perbuatan buruknya lama-lama akan hilang.
Setiap perbuatan buruk akan sukar untuk dihilangkan dan akan membutuhkan waktu yang lama. Akan tetapi jika kita betul-betul memperhatikan masalah shalat dan benar-benar menjaganya, maka akan mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Dengan barokah shalat, maka dengan sendirinya kebiasaan buruk itu akan hilang.

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Labels

Pengunjung

free counters

Copyright 2012 Education Template by Erly | Publish on Erly Templates